Keluarga Syarif kecewa dan tak berdaya ketika sawah milik mereka dipaksa harus dijual oleh para calo karena sawah yang lain juga sudah mau dijual untuk perumahan.
Para calo tanah dengan body guard nya memaksa warga menjual tanah dan kalau menolak akan celaka. Syarif kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tetap saja menggarap sawahnya karena orang tuanya sakit.
Syarif mempunyai teman saat kecil bernama Dani yang telah lama tinggal dikota, pulang kampung dan menemuinya.
Dani kesal mendengar cerita Syarif mengenai keadaan
kampungnya. Ia tidak rela sawah-sawah dikampungnya menghilang dan diganti oleh perumahan.
Dani mengajak Syarif untuk melawan pengusaha dan antek-anteknya. Tapi ketika Dani pulang ke rumah, ia terkejut mengetahui bahwa bapaknya yang telah memerintahkan para calo tanah untuk membebaskan
sawah-sawah atas perintah bos besar di Jakarta.
Dani tidak suka dengan perbuatan bapaknya kemudian melaporkan ke Polisi dengan beberapa bukti yang dia ambil dari bapaknya.
Akhirnya orang tua Dani ditangkap Polisi.
Syarif yang mengetahui kelakuan orang tua Dani kemudian melampiaskan kekecewaannya dengan menghajar Dani. Tapi kemudian Syarif meminta maaf
dan berterima kasih kepada Dani yang telah menolong masyarakat walaupun harus mengorbankan orang tuanya.